Sabtu, 02 November 2013

Nyongkolang Sasak indigenous culture on the island Lombok | The Daily Roar

lombok


Nyongkolang are an indigenous Sasak (Sasak = name of a local tribe on the island of Lombok) culture and they growed up only in the province of West Nusa Tenggara situated on the island of Lombok, Indonesia. Nyongkolang also can be considered as a lifestyle on the island of Lombok Sasak tribe. The Nyongkolang cultural custom event (wedding ceremony) is done only for the bride and groom or the couple who just got married. So pickles Nyongkolang is implemented as an act of gratitude and a festive party for the bride and groom. But keep in mind that the Nyongkolang event is not merely a party just to spend money or show possessions, food and more.
But pickles Nyongkolang cultural customs that has special meaning through cultural customs.

Nyongkolang pickles (solemnization of the marriage) can strengthen the inner “Friendship relation” between the wife’s family and her husband. Besides being directly the ceremony is also handy to introduce local residents to the husband and with the wife’s local citizens. It also means that the indigenous culture can bring people from the Nyongkolang region closer to other regions in one place. So the relations among humans can become more tightly intertwined and powerful like one big family on the island of Lombok.

The Nyongkolang indigenous culture is routinely carried out by people on the island of Lombok, but only for married couples. Except for the bridesmaids the bride and groom are all required to wear traditional dresses typical for the region of Lombok. The clothes worn by the bride and groom are typical and traditional for the Sasak culture. And its unique cultural customs for this event is that everyone is welcome to come and celebrate this even with the couple at the venue where the ceremony is held. A lot of times these ceremonies are also the opportunity for single people to find their own soulmate!

So, for those who do not have a mate yet or want to find a soul mate, quickly follow the customs Sasak culture “NYONGKOLANG” IN the island of Lombok.


/// Written by Hilmiah Miah, Indonesia

LOMBOK..."Surga Baru" setelah Bali..

Gili Terawangan

SENGGIGI Beach
Kuta Beach - LOMBOK
Lakey Beach - Dompu

Sufring di Pantai Lakey - Dompu



Kuta Beach - Lombok


Gili Terawangan


Extreem Kuliner dari CEPU...ENTHUNG atau UNGKER


Blora yang terkenal dengan hutan jatinya, setiap tahun pada masa peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan atau laboh, warga di sekitar hutan mengalami panen ungker atau enthung (kepompong dari ulat daun jati-Red). Dibulan November-Desember seperti sekarang,kepompong ini demikian melimpah di daerah-daerah di mana pohon jati tumbuh dengan baik seperti di Tuban, Gunung Kidul, Bojonegoro, Rembang, Jepara dan Blora.

Kondisi geografis kabupaten Blora adalah bertanah kapur. Tanaman yang cocok untuk keadaan ini adalah pohon jati. Pada musim hujan, ketika daun jati bersemi, banyak ulat yang memakan habis daun-daunnya. Namun warga sekitar hutan justru mensyukuri hama ini karena dapat dimakan. Ulat ini berwarna coklat muda sampai hitam.
Ketika masih dalam bentuk ulat, dia akan memakan habis daun jati hingga tersisa kerangkanya saja. Begitu tiba waktunya untuk bermetamorfosa jadi kepompong, ulat ini akan turun dari atas pohon ke tanah. Caranya dengan terjun menggunakan air liurnya yang membentuk sulur. Mirip yang dilakukan oleh binatang laba-laba atau spiderman.

Sesampai di tanah, dia akan mencari tempat tersembunyi. Biasanya di balik daun atau batu. Di situ, dia membungkus dirinya dengan air liur dan butiran tanah, kemudian bertapa untuk berubah bentuk menjadi kepompong. Warnanya coklat tua dan permukaannya licin. Nah kepompong inilah yang enak dimakan. Musim ungker seperti ini bagi warga di sekitar hutan memang merupakan berkah tersendiri, karena mereka akan mendapat penghasilan tambaha
“Pados ungker nget
en niki abot, kedah betah gatel lan dicokot jengklong. (Mencari ungker seperi ini berat, harus tahan gatal dan digigit nyamuk-Red),” tutur Umi, penjaja ungker di jalan raya Blora-Randublatung.

Penuturan bocah yang mengaku masih duduk di kelas VI SD itu bukan berarti menakut-nakuti. Untuk mencari ungker, seseorang harus masuk ke hutan dan berjam-jam membolak-balik daun jati kering karena ungker banyak terdapat di balik daun jati yang sudah jatuh.


Cara memasaknya cukup sederhana. Kempompong atau masyarakat setempat menyebutnya UNGKER ini dicuci bersih. Setelah itu ada yang mengukusnya lebih dulu, tapi ada yang langsung menggoreng dengan bumbu bawang putih dan garam. Tapi awas, kalau punya alergi,musti agak hati-hati, makanan ini bisa menimbulkan gatal-gatal di sekujur badan

Setiap bulan November-Desember ada satu fenomena unik yang muncul di hutan jati. Segerombol masyarakat terlihat sedang memungut sesuatu dari lantai hutan. Coba tebak, apa yang mereka pungut ?.. Bukan buah jati atau jamur, tetapi “ungker” ulat jati. .kandungan proteinnya tinggi, akan tetapi lebih rendah dari kandungan protein belalang kayu. Kepompong ini ukurannya 1-2 cm, karena ulatnya berukuran kecil. Harga ungker pada musim ini adalah Rp. 20.000-30.000/kg dan permintaan dari masyarakat sangat tinggi. Mungkin bagi mereka yang tidak biasa memakan ungker, ketika memakannya akan merasa geli agak jijik juga barangkali…

Ungker merupakan kepompong dari jenis ulat jati Hyblaea puera. Ciri-ciri fisik enthung jati (kepompong) ini adalah warna coklat sampai coklat tua kehitam-hitaman, panjang rata-rata 1,4 –1,9 cm, berat rata-rata 0,7-1,3 mg. Ulat jati menyerang pada awal musim penghujan, menyerang pohon-pohon jati yang baru saja memunculkan daun-daun hijau setelah menggugurkan daun ketika musim kemarau. Ulat dan kupunya dapat dijumpai dalam jumlah sangat besar pada 4 – 6 minggu pertama di musim hujan. Oleh karenanya tidak heran pada masa itulah masyarakat memanen ungker dari lantai hutan, karena kepompong ulat jati ini letaknya di lantai hutan dibalik serasah daun jati. Ulat Hyblaea puera muda memakan daun yang lunak dengan meninggalkan urat-urat dan tulang-tulangnya. Ulat dewasa memakan seluruh jaringan daun kecuali tulang-tulang daun yang besar. Ulat makan pada malam hari.

Pengaruh serangan ulat jati pada pertanaman jati secara umum adalah menurunkan potensi riap pohon, dan dalam kondisi khusus dapat meningkatkan resiko kematian pohon jati muda. Daun tanaman berfungsi dalam proses fotosintesis yang hasilnya digunakan untuk pertumbuhan. Daun-daun yang dimakan ulat adalah daun-daun produksi pertama setelah sebelumnya tanaman meranggas. Dengan adanya serangan ulat maka periode efektif fotosintesa pohon menjadi berkurang, dengan demikian periode efektif untuk pertumbuhan (penambahan tinggi dan diameter) menjadi semakin pendek.

Akibat serangan hama ulat jati dalam kondisi khusus dapat meningkatkan resiko kematian tanaman jati muda (tanaman 1 – 3 tahun) di lapangan. Hal tersebut bilamana sebelum serangan ulat jati didahului oleh periode musim kemarau yang panjang. Pada jati muda, daun-daun yang tumbuh pada awal musim hujan dapat merupakan hasil cadangan energi terakhir untuk mempertahankan hidup setelah melalui masa kemarau panjang. Jika daun-daun tersebut kemudian diserang habis oleh ulat maka tanaman sudah tidak memiliki kemampuan untuk mempertahankan hidup lagi; sehingga setelah serangan ulat jati berakhir, maka tanaman jati muda juga tidak dapat menumbuhkan daun lagi (mati).

Tapi justru ulat yang dianggap hama pengganggu ini menjadi berkah bagi masyarakat sekitar hutan jati.Di bulan November-Desember seperti sekarang ini,melimpahnya kepompong ulat jati menjadi sumber tambahan gizi dan ekonomi keluarga....

sumber :berandakawasan.wordpress.com/2009/12/02/ungkerenthung-extreme-kuliner-dari-blora/

WONOCOLO OLD OIL FIELD

Sudahkah pernah mendengar ladang minyak tua di Wonocolo , Cepu? Atau tepatnya di desa Wonocolo, Kec Kedewan, kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur
Perjalanan dari Blora mengambil arah Cepu dan selanjutnya memasuki kawasan Hutan jati yang rindang dan asri hingga akhirnya tiba di lokasi.
Wonocolo adalah satu-satunya desa di Indonesia dan mungkin di dunia yang masyarakatnya melakukan eksplorasi minyak bumi secara tradisional. Pada awalnya, Ladang Minyak itu ditemukan oleh Dordsche Petroleum Maatschappij (DPM), Perusahaan Belanda pada tahun 1879.

Tambang Minyak Bumi dan Gas Alam tersebut saat ini dikelola secara tradisional dan mekanis. Penambangan tradisional dikelola oleh masyarakat dengan peralatan sederharna untuk pengambilan minyak (sumur) dengan rata-rata kedalaman 500 meter dan dengan sumur pompa tangan (penemuan baru) dengan kedalaman 28 meter, sedangkan sebagian lagi menggunakan tehnologi yang memanfaatkan mesin mobil sebagai penggerak.
Stoop Adrian, Engineer DPM yang menemukan minyak mungkin akan terkejut jika dia mengetahui bahwa minyak di area wonocolo masih dieksplorasi dengan teknologi unik yang ia lakukan pada 130 tahun lalu.



Salah satu lokasi produksi minyak secara tradisional di Wonocolo

Lapangan Minyak tua di Wonocolo ini dioperasikan oleh masyarakat sekitar yang memproduksikan sumur – sumur tua milik Pertamina dan Humpuss yang sudah tidak ekonomis lagi. Artinya sumur tersebut sudah tidak banyak mengandung HC (Hidrokarbon) dalam hal ini kandungan light oil (minyak ringan) -nya sudah tipis. Masyarakat ini tidak membor sumur baru lagi akan tetapi mereka hanya memproduksikan dan menyulingnya saja. Menara pemboran (rig) dibuat dari kayu yang menyerupai susunan api unggun besar. Tempat pengolahan minyak atau refinery – nya saja hanya menerapkan sistem subag (sawah di bali) yang dibuat bertingkat dari atas ke bawah dan minyak mengalir secara otomatis dari atas ke bawah.


Rangka truk yang digunakan untuk produksi minyak di wonocolo

Minyak yang dihasilkan oleh sumur2 tersebut didominasi oleh heavy oil (minyak berat) yang kita kenal sebagai solar. Mereka mempunyai tempat pemasaran tersendiri dengan sistem bagi hasil tradisional. Pasar merekapun berada di bis2 Ngawi dan Sragen. Di daerah lain minyak mereka tidak laku karena proses pengolahan-nya tidak baik (kualitas yang dihasilkan tidak memenuhi standar) dan akan merusak mesin jika dipakai. kebanyakan pasar mereka adalah bis2 tua dan alat2 pertanian di dua daerah tersebut.

Pihak PERTAMINA EP Cepu dalam hal ini Distrik Kawengan tidak “berdaya” menghadapi ulah dari masyarakat ini. Seharusnya seperti apa yang kita ketahui dalam UUD 45′ bahwa eksploitasi minyak dan gas bumi dan kekayaan alam di Indonesia mempunyai regulator dalam hal ini Dirjen dan pihak perusahaan yang terkait. Bagaimana dengan lapangan minyak di Wonocolo ini?

Masyarakat memproduksikan minyak dengan tenaga utama (prime mover) rangka truck hino dan motor vespa diatas……….Hal itu mereka lakukan karena mereka merasa tidak pernah menerima bagian / upah dari eksploitasi minyak di daerah Cepu pada umumnya dan lapangan minyak wonocolo pada khususnya. Hal ini menyebabkan mereka mengambil tindakan secara ilegal.

Jika dihitung dalam perhitungan ekonomi perminyakan, PERTAMINA merugi karena lapangan tersebut sebenarnya masih sangat ekonomis akan tetapi bukan di sumur2 tua tersebut.


vespa juga bisa ngebor.... LOL

Pedagang "engkrek "(pedagang minyak eceran dengan jerigen )datang ke lokasi tersebut untuk membeli minyak hasil sulingan mereka . Mereka berasal dari sejumlah desa di kecamatan Kedewan, Kalitidu dan Purwosari. Sudah beberapa tahun ini, mereka memasarkan minyak hasil sulingan yang diproses langsung di lokasi penambangan minyak tradisional di Desa Wonocolo, Hargomulyo, juga Beji di Kecamatan Kedewan.
Mereka membeli minyak sulingan dari para penyuling baik dari para penambang minyak mentah atau pemilik sumur minyak di lapangan minyak tradisional di Bojonegoro itu. Di tiga desa penghasil minyak ini sedikitnya ada 200 lokasi tempat penyulingan. 

Pemrosesan produksi minyak mentah ("crude oil") dari sumur minyak tua itu, dilakukan secara tradisional dengan cara dibakar. Sebelumnya, minyak mentah yang ditambang dari sumur minyak dimasukkan ke dalam drum yang di timbun di dalam tanah.Dengan sebuah pipa besi, hasil pembakaran minyak mentah tersebut, disalurkan kemudian ditampung menjadi minyak hasil sulingan dan dibakar sekitar tiga jam, baru kemudian minyak hasil sulingan keluar melalui pipa.Menurut seorang pengolah minyak hasil sulingan dari satu drum minyak mentah atau sekitar 200 liter minyak yang pertama keluar berwarna putih yang dianggap premium sebanyak 10 liter.Secara beruntun keluar minyak tanah dan solar, dengan komposisi separuh-paruh dan di dalam drum masih tersisa sekitar 20 liter residu. Hasil sulingan itulah yang kemudian dibeli pedagang engkrek untuk dipasarkan ke berbagai daerah di Jatim dan Jateng.

Hasil minyak sulingan berupa solar cukup laris dipasaran, sebab tidak hanya dimanfaatkan untuk bahan bakar industri dan mesin diesel pompa air, juga dimanfaatkan untuk kendaraan bermotor.

Sampai kapan aktifitas ini akan terjadi ?
Bagaimana pendapat anda tentang fenomena yang terjadi di negara kita ini?
Semoga bermanfaat………










sumber :
1. hendratahulending.wordpress.com/2009/06/21/lapangan-minyak-tua-wonocolo/
2.www.rumahcerdaskreatif.com
3.www.antarajatim.com/lihat/berita/68363/berkah-pedagang-engkrek-minyak-sulingan-mengalir



Another STORY from CEPU

Dari kisah cepu kemaren... ada banyak foto yang belum terupload.. aku ingin merangkainya di kesempatan kali ini dari perjalananku ke Cepu tempo hari...
Foto-foto ini juga jadi kekhasan kota Cepu,.. Bagi orang-orang yang pernah tinggal di kota ini... sekali melihatnya saja tahu.. ini di mana dan terbayang suasananya..

Selamat Menikmati Yang masih tersisa dari Cepu.. :)


Depo Loco 


Taman Makam Pahlawan Nglajo

eks Pengeboran Minyak Nglajo

Loco Spoor Blora

jembatan lama nDengok


Jeplakan sepur 

Gudang Prah

Depo Loco dan Loco Kereta Gaya Baru
Lapangan Atletik Nglajo
slender DPUK